Apa Itu Li-Fi? Apakah Bisa Menggantikan Wi-Fi?

0
285

Sedang mencari tugas kuliah di kafe atau hanya sekedar santai, tentu tidak terlepas dengan adanya wifi gratis. Anak-anak mudah kekinian pasti tidak betah kalau tidak ada wifi gratis yang diberikan oleh restoran atau kafe tempat mereka nongkrong. Kebanyakan pula sebelum memesan menu, mereka akan bertanya password wifi.

Sudah tidak diragukan lagi keberadaan wifi membuat penggunanya betah berlama-lama duduk santai di satu tempat saja. Tapi, kalau tidak ada wifi, apakah masih ada fasilitas koneksi internet gratis lain yang bisa dipakai oleh masyarakatnya?

Tentu ada. Kini sudah ada teknologi internet Li-Fi atau kepanjangannya adalah light fidelity. Teknologi terbilang cukup unik karena jaringan internetnya bukan dari jaringan biasa tapi dari cahaya lampu. Inovasi yang tidak biasa ini tidak perlu sebuah router lagi untuk menjalaninya. Bahkan kabel optik saja tidak perlu dipakai lagi.

Hanya dengan bohlam lampu saja, kamu sudah bisa menikmati akses internet yang fungsinya tentu sama dengan wi-fi. Yang membedakannya juga adalah jaringan wi-fi didapat dari sinyal radio. Kalau Li-Fi, jaringannya yang dari bohlam lampu dipercaya juga menjadi sistem komunikasi modern yang diklaim oleh seorang ahli bernama Prof. Herald Hass.

Dari cahaya lampu, prosesnya jauh berbeda dengan jaringan lainnya yaitu media cahaya yang dikenal sebagai Visible Light Communication (VLC) nantinya menjadi media pengiriman data-data. Media itu tidak perlu tambahan kabel lagi karena sinyalnya berasal dari lampu-lampu yang sudah ada di mana-mana.

Untuk sistem kerjanya sebenarnya tidak berbeda jauh dengan teknologi wi-fi. Tapi tetap masih ada perbedaan pada media transfer datanya. Seperti yang sudah sempat dijelaskan sebelumnya, kalau VLC menjadi media pengiriman data yang melalui bola-bola lampu. Ketika sumber-sumber cahayanya saling mendeteksi satu sama lainnya, sensornya akan mendeteksi yang berada di ujung perangkat Li-Fi.

Tidak hanya berhenti di situ saja. Nantinya perangkat serupa tapi yang lain akan mengubahnya menjadi biner code 1. Hal itu bisa terjadi ketika lampu LED-nya menyala. Dari proses itulah, semua pengiriman datanya tidak perlu lagi membangun insfrastruktur baru yang bisa menghabiskan banyak uang.

Teknologi Li-Fi juga mudah diadopsi dan dipakai, sehingga kalangan menengah ke bawah pun bisa menggunakannya dengan sama baiknya. Untuk kecepatannya, Li-Fi sudah diprediksi memiliki kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan wi-fi, yakni sekitar 100 Gbps.

Untuk membuktikannya, di tahun 2015, China sempat melakukan uji coba menggunakan teknologi Li-Fi. Saat itu, mereka berhasil mendownload film dengan memakan waktu hanya 0,3 detik saja. Hasil yang sangat mencengangkan tersebut tentu bisa melewati kemampuan 4G dan 5G.

Menurut Prof. Herald, kecepatan tersebut memang sangat memungkinkan mengingat didapat dari spektrum elektromagnetik yang cukup besar. Gelombang tersebut bahkan hanya berasal dari cahaya lampu itu sendiri. Tentu hasilnya akan jauh berbeda daripada wi-fi yang mendapat jaringannya dari gelombang radio.

Dalam perhitungannya, gelombang spektrum tersebut 10.000 kali lebih besar dibandingkan gelombang radio. Tidak heran kalau kecepatan internet lebih ngebut dibanding wi-fi. Meski begitu, inovasi terbaru ini masih dalam tahap pengembangan. Tapi tetap saja teknologi ini sudah berhasil membuat pengguna internet di seluruh dunia penasaran untuk mencobanya.

Dengan teknologi yang tidak memakan banyak infrastruktur ini, tentu bisa menjadi pilihan lain kalau wi-fi sedang tidak berfungsi dengan baik. Bahkan untuk lingkungan yang sulit dijangkau fiber optik bisa memakai internet ini. Tapi dari pernyataan Prof. Herald, Li-Fi tidak perlu menjadi pengganti wi-fi karena cukup menjadi pelengkap saja.

Dari penjelasan tersebut tentu kamu sudah semakin mengerti keberadaan Li-Fi. Inovasi ini tentu bisa membawa dampak yang luar biasa, apalagi bagi pengguna internet.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here